Facebook Twitter Google RSS

Wawancara Eksklusif Al-A’maq Dengan Seorang Pemuda Gaza Yang Bergabung Dengan Daulah Islamiyah (1)



Abu Hanan untuk Al-Mustaqbal Channel menerjemahkan sebuah wawancara eksklusif yang dilakukan oleh reporter Al-A’maq News Agency dengan seorang pemuda Gaza yang bergabung dengan Daulah Islamiyah, Abu Azzam Al-Ghazzi. Wawancara terjadi di Halb, pada tanggal 26 Agustus 2014. Semoga bermanfaat! 

Bagian 1

Reporter al-A’maq: Bismillahirrahmanirrahim. Hayyaakallah (Semoga Allah memanjangkan umurmu), Akhi yang mulia. Selamat datang sebagai tamu kami di Wakalah al-A’maq al-Ikhbariyah. Kami ucapkan terima kasih karena Anda telah memenuhi undangan kami dan bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. 

Abu Azzam Al-Ghazzi: Hayyaakallah wa baaraka fik (Semoga Allah memanjangkan umurmu dan memberkatimu), Akhi. Saya berharap agar Allah ta’ala menerangi mata hati kalian dan menjadikan kalian sebagai sebab bagi sampainya suara kebenaran kepada segenap manusia. 

Reporter al-A’maq: Allahumma amin. Bisakah Anda, Akhi, menceritakan sekilas tentang diri Anda dan memperkenalkan diri Anda kepada kami. 

Abu Azzam Al-Ghazzi: Saudaramu yang membutuhkan karunia Allah, Abu Azzam, seorang muslim sederhana dari Gaza. Saya berhijrah untuk menolong agama Allah ta’ala dan untuk menolong orang-orang yang dizalimi. Kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar menerima amal-amal kita dan memberikan keikhlasan kepada kita.

Terlebih dahulu saya ingin menyebutkan bahwa saya tidak berbicara atas nama Daulah atau atas nama para tentaranya. Tetapi perkataan saya mewakili diri saya saja. Dan saya berharap agar kalian menghadirkannya secara lengkap tanpa memotong-motongnya. Inilah keyakinan kami terhadap kalian.

Reporter al-A’maq: Bergembiralah, Akhi. Saya merasakan dari perkataan Anda adanya permusuhan terhadap media-media informasi. 

Abu Azzam Al-Ghazzi: Tidaklah samar bagi kalian permusuhan media-media informasi terhadap Islam dan kaum muslimin secara umum, serta terhadap Daulah Islamiyah secara khusus. Kalian mengetahui dengan baik bahwa mayoritas media informasi –jika tidak seluruhnya– telah dipolitisasi.

Ketundukannya kepada negara-negara dan pemerintahan-pemerintahan telah menjadi sesuatu yang sangat jelas. Ada yang berada di bawah kendali Qatar, Turki, dan yang sepakat dengan keduanya. Ada yang berada di bawah kendali Keluarga Salul (Saudi) dan yang sepakat dengannya. Ada yang berada di bawah kendali Iran dan yang sepakat dengannya. Ada yang langsung berada di bawah kendali Rusia, Inggris, Amerika, dan sebagainya. Maka wajar jika setiap channel, radio, atau koran mendukung orientasi politik negara yang mendirikannya atau ideologi yang dianutnya, seperti kapitalisme, sosialisme, atau shahwatiyah. Yang saya maksud dengan shahwatiyah adalah gerakan-gerakan yang memakai pakaian Islam, tapi pada hakikatnya menganut sekularisme sampai tulang sumsum. 

Saya tidak yakin bahwa salah satu dari negara-negara yang baru saja saya sebutkan kepada Anda merasa senang dengan apa yang dilakukan oleh Daulah Islamiyah dan apa yang ingin dicapainya, yaitu mengembalikan persatuan kaum muslimin di bawah hukum syariat dan menghancurkan perbatasan-perbatasan yang ditetapkan atas mereka sejak puluhan tahun yang lalu. Meskipun negara-negara ini berbeda-beda dan memiliki orientasi politik yang berbeda-beda pula, namun semuanya sepakat untuk memerangi Daulah Islamiyah –semoga Allah menjayakannya. 

Reporter al-A’maq: Dengan mudah kita bisa melontarkan tuduhan-tuduhan seperti ini. Tetapi apa bukti Anda atas apa yang Anda katakan? 

Abu Azzam Al-Ghazzi: Koordinasi di bidang politik, militer, dan media dalam memerangi Daulah. Dan juga apa yang kita dengar dari pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh negara-negara yang bermusuhan sepanjang sejarah seputar Daulah. Lihatlah Rusia dan Amerika bersepakat dalam apa yang dinamakan dengan Dewan Keamanan untuk mengeluarkan sanksi-sanksi terhadap Daulah. Lihatlah Hasan Nasrullata menyerukan persatuan bersama seluruh rakyat Lebanon untuk menghadapi bahaya ekspansi Daulah. Lihatlah Inggris mengumumkan kesiapannya untuk bekerja sama dengan Iran dalam menghadang ekspansi Daulah Islamiyah. Dan seruan yang sama juga dinyatakan oleh beberapa pejabat dari Keluarga Salul dan negara-negara Teluk. Bahkan orang-orang yang menamakan diri mereka dengan Al-Qaidah sekarang bergabung dengan kafilah ini! Semua ini mencerminkan terjadinya perubahan dalam keseimbangan politik dan strategi. Semua negara kafir di dunia bersatu dalam satu kubu, diikuti oleh sebagian dari kaum muslimin yang munafik dan terpedaya, untuk menghadapi Daulah Islamiyah, setelah sebelumnya masing-masing pihak dari mereka menuduh Daulah sebagai antek bagi pihak lain. 

Reporter al-A’maq: Baik. Sekarang izinkan saya, Akhi, untuk bertanya kepada Anda tentang apa yang mendorong Anda untuk berhijrah ke sini dan berjihad bersama Daulah? Bukankah ada jihad di Gaza dan Palestina?

Abu Azzam Al-Ghazzi: Pertama, Akhi, pertanyaan ini didasarkan pada konsepsi-konsepsi yang salah tentang syariat dan realitas. Dari pertanyaan ini dipahami seolah-olah jihad adalah tujuan individual bagi mujahid dan bukan sarana syar’i untuk mewujudkan perintah Rabb. Sebagaimana pertanyaan ini juga mengisyaraktan bahwa ada perbedaan di antara negeri-negeri kaum muslimin berdasarkan batas-batas ilusif dan tidak syar’i (ilegal) yang ditetapkan oleh orang-orang kafir terhadap kita dengan kekuatan senjata dan dengan perang pemikiran. 

Adapun pada hakikatnya, tidak ada sesuatu yang bernama Suriah, Palestina, Lebanon, Irak, apa yang dinamakan dengan Saudi, dan nama-nama lainnya. Semua ini tidak lain adalah negeri-negeri kaum muslimin yang dipecah-belah oleh orang-orang kafir dan diangkat di atasnya para tiran yang tunduk kepada mereka. 

Wajib atas kaum muslimin untuk menyatukan negeri-negeri ini di bawah hukum syariat. Dan jihad adalah fardhu ‘ain atas setiap muslim, sampai kita mengembalikan hukum syariat dari Cina sampai Andalus. Maka tidaklah layak bagi muslim yang mukhlis yang ingin merubah kondisi menyedihkan yang dialami oleh umat ini untuk mengungkung dirinya dan membatasi pikiran serta cakrawalanya dalam batas-batas sempit yang digariskan oleh dua orang kafir, Sykes dan Picot, ini. Tetapi wajib atasnya untuk menghancurkan batas-batas ini dalam hatinya dan berusaha menghancurkannya dalam realitas. 

Adapun dari segi syariat dan realitas, jihad menurut syariat adalah berperang untuk menegakkan syariat Allah di bumi. Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam surat Al-Anfal: “Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah dan sampai agama hanya bagi Allah semata.” Sebagaimana diriwayatkan dengan sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama bahwa seorang laki-laki datang dan bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, seorang laki-laki berperang demi ghanimah, seorang laki-laki berperang demi popularitas, dan seorang laki-laki berperang agar tempatnya dilihat. Siapakah di antara mereka itu yang di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama menjawabnya: “Barang siapa berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, maka dia di jalan Allah.” “Sampai agama hanya bagi Allah semata” dan “agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi”

Artinya: agar syariat Allah tegak di atas bumi ini; seluruh bumi menaati apa yang diperintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya; di dalamnya didirikan had-had Allah ‘azza wa jalla tanpa basa-basi dan tanpa kita terpengaruh dalam melaksanakan agama Allah oleh celaan orang yang mencela; dan bahwa kalimat Allah menjadi yang tertinggi, bahkan terhadap orang-orang kafir di negeri-negeri mereka, sehingga mereka membayar jizyah kepada kaum muslimin dengan tangan mereka dalam keadaan tunduk atau mereka akan menghadapi ketajaman pedang. 

Adapun apa yang berlangsung di Palestina, ia berbentuk konflik atas tanah, dan tujuan dari perang di sana bukanlah untuk menegakkan syariat Allah serta menundukkan manusia padanya. Buktinya, orang-orang yang mengklaim bahwa mereka mengusung proyek jihad di sana, ketika mereka menguasai Gaza, mereka menerapkan undang-undang yang sama dengan undang-undang konvensional yang dimiliki oleh Fatah. Mereka tidak menegakkan syariat Allah ‘azza wa jalla di sana. Mereka mengklaim bahwa mereka bertekad untuk menerapkannya, tetapi secara bertahap. 

Selain bahwa perkara ini tidak sesuai syariat, mereka juga tidak tulus di dalamnya. Bahkan sebaliknya, secara bertahap mereka mulai berpaling kepada orang-orang sekuler, hingga akhirnya mengantarkan mereka beberapa bulan lalu untuk membentuk pemerintahan nasional bersatu bersama orang-orang sekuler, dan jabatan presiden serta perdana menteri tetap menjadi milik gerakan Fatah yang sekuler! Ini sebenarnya sangat jelas bagi kami sejak permulaan. Tetapi kami menjelaskan perkara-perkara ini kepada orang yang sampai sekarang tetap tertipu dengan Hamas, proyeknya, dan efektifitas metode yang dijalankannya, di luar kesesuaiannya dengan syariat. Karena itu, para ikhwah yang mukhlis di antara putra-putra kelompok-kelompok itu bersama pemuda-pemuda kaum muslimin lainnya berusaha membetulkan arah dan mengorganisir usaha-usaha mereka dalam sebuah kelompok yang tujuannya adalah jihad demi meninggikan kalimat Allah ‘azza wa jalla. Tetapi usaha-usaha ini dihadapi dengan tindakan-tindakan represif yang berulang-ulang dari pihak Hamas yang membunuhi para ikhwah di banyak tempat, menangkap mereka, memburu mereka, merampas persenjataan mereka, dan melarang mereka untuk membalas serangan yang berulang kali terhadap Masjid Al-Aqsha yang diberkati, pembunuhan tawanan, dan kejahatan-kejatahan lainnya. Sebab, mereka tidak menginginkan munculnya kekuatan apa pun yang bertentangan dengan pemikiran mereka yang menyimpang dan perspektif mereka yang salah terhadap jihad. Mereka ingin memonopoli medan di sana untuk ijtihad-itjihad mereka dan perang-perang yang mereka jalani saja, demi menjaga eksistensi mereka dalam kekuasan. 

Reporter al-A’maq: Kita akan kembali ke tema Palestina. Dan secara spesifik saya akan bertanya kepada Anda tentang perang Gaza yang terakhir. Tetapi sebelum ini, izinkan saya menyelesaikan bersama Anda tentang poin hijrah Anda ke sini. Kenapa Anda memilih Daulah Islamiyah dan tidak bergabung dengan Jabhah Nushrah misalnya? Apakah pilihan Anda ini memiliki hubungan dengan Palestina? Apakah di antara tujuan-tujuan kalian di Daulah Islamiyah adalah membebaskan Palestina? Apa saja langkah-langkah yang kalian ambil dalam rangka mewujudkan tujuan ini jika ada? 

Abu Azzam Al-Ghazzi: Saya akan menjawab bagian kedua dari pertanyaan Anda, Akhi, sebelum bagian pertama. Daulah Islamiyah ini, Akhi, tujuannya adalah mengembalikan semua negeri kaum muslimin ke bawah naungan syariat dan menegakkan hukum yang diturunkan oleh Allah, di samping menaklukkan negeri-negeri yang belum masuk ke dalam Islam, terutama Roma, pusat salib yang telah dikabarkan penaklukannya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama setelah penaklukan Konstantinopel. Karena itu, secara otomatis pembebasan Palestina masuk ke dalam tujuan-tujuan periodik yang dimiliki oleh Daulah Islamiyah, sesuai dengan analisa saya. Dan saya yakin bahwa tidak ada gunanya membebaskan Palestina, seluruh Palestina, selama syariat Allah tidak ditegakkan di dalamnya dan selama ia tidak disatukan dengan negeri-negeri kaum muslimin lainnya. 

Lihatlah Mesir, Aljazaer, Pakistan, misalnya, dan semua negeri kaum muslimin tanpa pengecualian, negeri-negeri ini tidak dijajah oleh seorang pun tetapi menderita, karena hukum Allah ‘azza wa jalla tidak hadir dan tidak diterapkan di dalamnya. Adapun langkah-langkah yang diambil oleh Daulah Islamiyah untuk membebaskan Palestina, secara sederhana adalah membangun kembali pangkalan-pangkalan perang dengan bentuk yang benar, dengan cara menyatukan kaum muslimin di negeri-negeri yang ada di sekitarnya dalam satu front di bawah kepemimpinan yang sesuai dengan syariat, membebaskan mereka dari para diktator, dan mendidik generasi-generasi mendatang berdasarkan pokok-pokok syariat. Taktik ini bukanlah sesuatu yang asing bagi kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama telah berhijrah ke Madinah dan membangun negara beliau di sana. Beliau meninggalkan Mekah dengan segala apa yang ada di dalamnya untuk kaum Quraisy. Sebab, beliau berencana untuk membersihkan Mekah dari kotoran orang-orang musyrik dan berhala-berhala mereka melalui pembangunan pangkalan yang kokoh di Madinah, yang kemudian menjadi titik tolak bagi kaum muslimin untuk menaklukkan Jazirah Arab dan seluruh dunia, bukan hanya Mekah. Sebagaimana saya ingin menyebutkan di sini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama memasuki banyak perang sebelum menaklukkan Mekah. Usaha beliau tidak hanya tercurah untuk membebaskan Mekah saja, sebagaimana dipikirkan oleh mayoritas kaum muslimin saat ini.

Risalah Islam yang terwujud dalam upaya menyebarkan tauhid dan mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terlalu luas untuk dibatasi pada masalah pembebasan satu negeri di antara negeri-negeri kaum muslimin, betapa pun sucinya negeri ini bagi mereka, tanpa bermaksud mengabaikan masalah ini. Sebagaimana taktik ini juga diikuti dalam sejarah kaum muslimin dalam menghadapi pasukan Salib, Tartar, dan lainnya. Mereka tidak merebut kembali satu negeri yang jatuh ke tangan musuh, termasuk di antaranya Baitul Maqdis, melalui perlawanan, tetapi melalui pembentukan tentara yang kuat di negeri muslim lainnya yang menjadi titik tolak bagi kaum muslimin untuk menghancurkan para agresor.

Kita kembali kepada bagian pertama dari pertanyaan Anda, tentang sebab saya memilih Daulah Islamiyah, bukan yang lain, seperti Nushrah misalnya, dan apakah itu ada hubungannya dengan Palestina. Jawabannya secara sederhana adalah bahwa Daulah Islamiyah adalah satu-satunya yang berusaha mewujudkan tujuan ini dengan kembali menyatukan kaum muslimin di bawah hukum syariat. Dan pembebasan Palestina masuk secara implisit ke dalam tujuan umum ini. Ini jelas dan tampak dari strategi Daulah dalam melakukan ekspansi dari hari ke hari ke semua arah, tanpa terpengaruh oleh celaan orang mencela dalam menegakkan agama Allah ‘azza wa jalla, dan tanpa memerhatikan pendapat umum yang berputar dalam orbit orang-orang kafir, ridha jika mereka ridha dan marah jika mereka marah. Adapun FSA, Koalisi Nasional, dan Staf Gabungan, ibaratnya kami berada di satu lembah dan mereka berada di lembah lain. Mereka tidak memiliki perhatian terhadap Islam atau Palestina sedikit pun! Tetapi sebaliknya, mereka ingin menjatuhkan Bashar, lalu mendatangkan pemerintahan sekuler dan mendirikan negara sipil demokratis yang loyal kepada Amerika, sebagai peganti pemerintahan Bashar yang loyal kepada Rusia. Dan mereka menerima dukungan dari Barat sebagai kompensasi dari mengerjakan proyek ini. Inilah sebab pertama yang mendorong mereka untuk mengkhianati kami berdasarkan perintah tuan-tuan mereka. Sebab, wajar jika proyek kami bertentangan dengan proyek mereka. Karena itu, mereka pun menyerang kami melalui media. Dan mereka tidak akan menemukan sesuatu untuk mereka katakan tentang kami kecuali teroris, ekstremis, dan pembantai! 

Apakah Anda menduga mereka akan mengatakan bahwa mereka berbeda dengan kami karena kami menginginkan Khilafah Islamiyah dari Cina sampai Andalus, sedangkan mereka menginginkan Suriah saja? Tentu saja tidak. Adapun katibah-katibah (batalion-batalion) yang menamakan dirinya Islam, mereka itu tertipu oleh pendukung-pendukung mereka, yaitu Keluarga Salul, Turki, dan lainnya yang mempermainkan akal mereka dan berusaha meyakinkan mereka bahwa tujuan dari jihad di Suriah adalah menegakkan negara Islam yang moderat, atau lebih tepatnya negara shahwatiyah sekuler dengan baju Islam, dalam batas-batas Suriah saja. Itu sengaja mereka lakukan untuk menciptakan kerusuhan dalam jihad yang diberkati ini, dengan mengeksploitasi kebodohan banyak dari putra-putra kelompok-kelompok itu akan hukum-hukum syariat dan sejarah. Itulah kerusuhan yang dipelihara oleh pemerintahan-pemerintahan dengan tujuan untuk membatasi hukum syariat agar tidak berekspansi ke negeri-negeri mereka dan menggulingkan singgasana-singgasana mereka.

Pesan Ayat:


Wahai orang-orang yang Beriman, apabila datang seorang fasiq dengan membawa suatu informasi maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena suatu kebodohan, sehingga kalian menyesali perbuatan yang telah kalian lakukan (al-Hujurat:6)

Muslim Satu © 2014
• Template : Bloggertheme9